Ibadh sholat merupakan salah satu tata cara seorang hamba bermunajat kepada sang rabbnya yang paling sempurna. Untuk itu mari kita perhatikan bagaimana kita menjalankan solat-sholat kita, bak sholat fardlu maupu sholat sunnah lainya.
Sebagai muqaddimah mari kita perhatikan firman Allah berikut:
surat al- mu’minun: 1-2
“sungguh telah beruntunglah orang-orang yang beriman (1) yaitu orang-orang yang khusu’ didalam sholatnya”.
Surat almu’minun: 9
“dan orang-orang yang senantiasa menjaga(mengerjakan) shlatnya”.
juag surat an-nisa’: 142
“dan apabila mereka berdiri unuk mengerjakan sholat, maka mereka mengerjakanya dengan bermalas-malasan”.
Dari ayat-diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa secara garis besar orang yang mengerjakan sholat itu terbagi menjadi 3 kelompok:
Pertama: kelompok orang-orang munafik
Yaitu kelompok orang yang mengerjakan sholat dengan bermalas-malasan atau yang mengerjakan sholat bukan karena Allah akan tetapi karena pujian dari orang lain (Riya’) sebagaimana yang dijelaskan oleh surat an-nisa’:142. Riya’ dalam hal ibadah sholat setidaknya ada tiga pengertian yaitu:
1. orang mengerjakan sholat bukan karena Allah, tetapi agar orang lain menganggaa bahwa dia adalah ahli sholat.
2. orag yang mendirikan sholat karena mengharapkan pujian dari orang lain.
3. orang yang sholat dengan memperpanjang bacaan sholat dan pura-pura khusu ketika dihadapan khalayak umum, sedagkan ketika melakukan sendirian di tempat sepi dia tidak melakukan shlat yang semacam ini.
Kelompok kedua adalah kelompok orang yang melakukan sholat akan tetapi belum masuk kategori kelompok ketiga yang akan kita bahas nanti.
Kelompok ini adalah mereka yang mengerjakan sholat hanya dalam rangaka menggugurkan kewajiban sahaja, tanpa mengayati rahasia-rahasia dibalik sholat itu sendiri. Ini adalah sholatnya orang ‘awam (kebanyakan orang).
Kelompok ketiga : adalah kelompok yang telah disebutkan dalam surat al-mu’minun:1-2 dan 9, dimana kelompok ini memiliki beberapa cirri-ciri berikut:
1.Al muhafadzah ‘ala at thoharoh ( bersuci ketika hendak menunaikan sholat).
Thaharah (bersuci) merupakan salah atu syarat sahya sholat, dalam artian ketika seseorang solat tanpa bersuci terlebi dahulu maka solatnya tidak sah (baik bersuci dari hadats maupu dari najis). Dan yang perlu diperhatikan adlah yang dimaksud bersuci disini adalah menjaga kesucian pakaian, tempat sholat dan kesucian anggota badan dari hadats atau najis
Kemudian mungkin kita akan bertanya-tanya lantas apa bedanya kelompok ketiga ini dengan kelompok kedua…? Titik perbedaanya adalah kelompok kedua ketika bersuci hanya menjalankan rukun-rukunya da meninggalan sunnah-sunnah dari taharah itu sendiri, sedangkan kelompok ketiga senantiasa menjalankan sunnah-sunnah dalam taharah bahkan dia selalu bersuci (berwudlu) setiap kali hendak melakukan sholat. Dan hal ini diperbolehkan bahkan disunnahkan menurut sebgian besar fuqaha’. Dan inilah dalam kajian fiqih disebut I’adatul wudlu’ atau tajdid at taharah.
2.al muhafadzah ‘ala sunani as sholat wa adabiha ( menjaga sunnah-sunnah sholat dan adab-adabnya).
Sunnah-sunnah sholat terbagi atas dua macam yaitu:
Pertama, sunnah ab’adh seperti do’a iftitah, tahiyyat/ tasyahud pertama,sholawat atas baginda Nabi Muammad disaat tahiyyat pertama dsb)
Kedua, sunnah hai-at seperti mengangkat kedua tangan ketika takbir, membaca ta’awudz sebelum membaca surat al fatihah dsb
Adapun adab-adab solat contohnya;
1. sholat dengan pakaian yang bagus dan indah, dan dsunahkan dengan berpakain putih besih
2. melakukan shlat dengan penuh khusu’ dan konsentrasi
3. menjalankan sholat dengan disertakan sunnah-sunnahnya
4. merapatkan shof (barisan ) sholat ketika sholat berjamaah
5. memusatkan pandangan ke arah sujud, dsb
( dengan sengaja kami tidak membahas lebih dlam soal bab ini dalam kesempatan ini. Mungkin akan kita bahas di kesempatan lain).
3. al muhafadzah ‘ala ruhis sholat (menjaga ruhnya sholat)
Yang dimaksud degan ruhnya shalat disini adalah seperti khusu’, ikhlas, mentadabburi bacaan-bacaan sholat dll. Karena shoaltnya seseorang tak akan berfaidah ketika ia menjlankanya dengan tidak disertai ruh-ruh sholatnya. Ibarat jasad manuisia yang tanpa nyawa. Bahkan sebagian ulama’ mengatakan sholatnya tidak akan diterima disisi Allah.
Jadi jangan sampai seseorang itu sholat dengan lidahnya bertakbir kan tetapia merasa bahwa masih ada kekuatan yang lebih agung daripada Allah, ketika membaca hamdalah rasakan betapa besarnya karunia, rahmat, hidayah dan nikmat Allah yang senantiasa terlimpah kepada hamba-hambanya, ketika bersujud yakinkan diri kita bahwa hanya Allah yang berak untuk kita jadikan sesembahan begitu seterusnya.
Masih banyak lagi hikmah-hikmah yang tersimpa dalam sholat akan tetapi semua itu tidaklah mungkin kita bahas dalam waktu dan keempatan sesingkat ini. Karena ini hanya sebuah pengantar dan coret2an aja koq…mari kita diskusikan bersama.
Erkham.caero 19 agustus 2008
Senin, 08 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
(01).jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar